Press "Enter" to skip to content

Peluang Usaha Distributor Pupuk dan Analisa Usahanya

Luna Kidia 0

Dengan semakin terbukanya peluang kerja pada bidang agribisnis tentu membuka peluang yang semakin besar pula pada usaha di bidang agribisnis, seperti toko alat-alat pertanian dan toko pupuk pertanian.

Hal tersebut membuat usaha mencadi distributor pupuk sangatlah menjajikan. Disamping potensi keuntungan yang besar, juga tingkat resiko kerugian yang rendah. Adapun yang harus anda perhatikan saat membuka usaha distributor pupuk sebagai berikut:

Peluang Usaha Distributor Pupuk
sumber : alfandointiperkasa.blogspot.com

Contoh rincian modal awal usaha 

Biaya operasional

Biaya terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap/variabel. Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tetap dan tidak berubah-ubah, contohnya biaya sewa tempat dan biaya untuk membeli alat-alat produksi. Sedangkan biaya variabel/baiay tidak tetap adalah  adalah biaya yang berubah-ubah.

Contohnya biaya untuk membeli bahan-bahan produksi dan uapah pekerja.

No.Jenis biayaHarga
1.Biaya tetap
Sewa tempat/bulanRp.  1.500.000
Alat dan perlengkapanRp.  5.000.000
Etalase dan rakRp.  3.000.000
2.Biaya variabel/ tidak tetap
Bahan-bahan pupukRp.  4.000.000
Bahan tidak tetap lainnyaRp.      800.000
Upah karyawan (2 orang)/bulanRp.   2.000.000
 TotalRp. 16.300.000

Pendapatan per bulan

Misalkan Anda dapat menjual beraneka macam pupuk, pendapatan per bulannya diperoleh = Rp. 25.000.000 atau penjualan per hari rata-rata 750rb sampai 1 juta.

Perhitungan Keuntungan

Cara menghitung keuntungan/laba yaitu:

Laba = Total pendapatan – Total biaya

= Rp. 25.000.000 – Rp. 16.300.000 = Rp. 8.300.000

Jadi ketika melihat dari hasil penjualan per bulannya jika sesuai asumsinya, maka pada bulan pertama penjualan saudah bisa mengembalikan modal awal dan sudah mendapatkan keuntungan sebesar 8,3 jutaan.

Analisis SWOT

  1. Strength (kekuatan) : Peminat relatif banyak dikarenakan banyaknya wilayah pertanian, konsumen tetap bahkan dapat bertambah, kebutuhan akan pupuk hampir merata di wilayah Indonesia, potensi kerugian relative rendah.
  2. Weakness (kelemahan): Tempat usaha memerlukan tempat yang luas dan pupuk juga tidak dibutuhkan setiap hari.
  3. Opportunity (peluang): Lebarnya pengembangan usaha di bidang agraris menyebabkan pembangunan pada sektor pertanian masih berlanjut sehingga kebutuhan pupuk semakin meningkat.
  4. Threats (ancaman): Persaingan semakin ketat baik lokal maupun asing, belum tentu distributor pupuk mendapatkan tempat yang strategis untuk memulai usahanya.

Persiapan awal dan cara untuk menghemat modal usaha

  1. Prospek usaha

Langkah awal memulai usaha ini ialah dengan melihat prospek dan potensi menjadi distributor pupuk di wilayah anda. Berapa banyak usaha, harga, jenis, serta pelayanan distributpr pupuk di wilayah anda. Setelah dirasa potensial, anda dapat membuka usaha tersebut. Tapi juga harus dapat menghemat modal dari perencanaan yang matang setelah melihat prospek usaha ini.

  1. Menentukan jenis produk pupuk

Penting menentukan jenis produk pupuk apa yang akan dijual di pasaran. Anda dapat menjual berbagai macam jenis pupuk sehingga usaha anda dapat dikatan lengkap yakni menyediakan berbagai macam pupuk. Hal tersebut sangat penting, selain untuk meraup untung juga untuk menarik minat pembeli untuk datang dan membeli karena produk pupuk yang dijual lengkap. Tapi agar hemat modal stok jangan terlalu banyak tapi tetap isinya komplit.

  1. Lokasi usaha dan harga pupuk

Lokasi usaha sebaiknya di tempat yang dekat dengan wilayah pertanian disertai dengan akses yang mudah dijangkau oleh pembeli.  Sedangkan harga pupuk dapat ditentukan dengan melihat distributor pupuk yang lainnya dalam menentukan harga pupuknya, sehingga harganya dapat bersaing dengan distributor yang lainnya. Selain itu saat menyewa tempat untuk berhemat modal awal harus mencari tempat dengan harga sewa yang mudah.

Berbicara tentang pupuk pertanian, mengingat Indonesia sebagai negara agraris, tentunya persebaran kebutuhan akan pupuk pertanian semakin meningkat dan merata di Indonesia. Terlebih jika musim bercocok tanam tiba tentunya kebutuhan akan pupuk semakin meningkat.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *